
IDXChannel - Harga minyak mentah ditutup menguat pada Jumat (1/11/2024) pekan lalu setelah adanya laporan Iran berencana melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Israel dengan menggunakan milisi Irak.
Hal tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya perang di Timur Tengah.

Pada Jumat (1/11) lalu, kontrak berjangka (futures) minyak mentah WTI untuk pengiriman Desember ditutup naik USD0,23 menjadi USD69,49 per barel setelah sebelumnya mencapai USD71,45 per barel.
Setali tiga uang, Brent untuk pengiriman Desember, patokan global, terapresiasi USD0,31 menjadi USD73,12 per barel.

Namun, dalam sepekan lalu, kedua kontrak acuan tersebut melemah lebih dari 1 persen, sedangkan dalam sebulan minus hampir 2 persen.
Bagaimana nasib kedua kontrak acuan tersebut pekan ini?

Secara teknikal, dalam chart harian, Brent berada dia area support, dengan area resistance terdekat berada di level Fibonacci 38,2 persen, yakni di USD75,81.
Sementara, WTI berpeluang menjajal resistance di level 71,4, yang merupakan angka Fibonacci 50 persen. Level support WTI berada di 69.
Sebelumnya, situs berita Axios pada Kamis melaporkan, Iran sedang bersiap menyerang Israel menggunakan drone dan rudal yang diluncurkan dari Irak, mengutip dua sumber anonim dari Israel.
Laporan tersebut mengindikasikan, pertempuran antara Iran dan Israel kembali memanas, meskipun harga minyak sempat anjlok tajam pada Senin setelah Israel melancarkan serangan terbatas terhadap situs militer dan industri Iran sebagai balasan atas serangan rudal Iran pada 1 Oktober.
Sebagai anggota penting OPEC, Iran memproduksi sekitar 4 juta barel per hari (bpd) pada 2023 dan diperkirakan akan mengekspor sekitar 1,5 juta bpd pada 2024.
"Jika Anda seorang trader, Anda akan merasa tegang sepanjang akhir pekan, berharap tidak ada kejadian yang merugikan posisi Anda," kata asisten profesor keuangan energi di Texas Christian University, Tom Seng.
Namun, meskipun Iran menyerang Israel, hal itu tidak akan memengaruhi pasokan minyak.
“Minyak mentah ini tidak akan naik kecuali Israel mengubah kebijakan dan menyerang infrastruktur minyak yang memengaruhi kemampuan ekspor Iran,” ujarnya.
Sementara, Saxo Bank mencatat, dikutip MT Newswires, Jumat (1/11), "Minyak mentah mendapat dukungan dari data ekonomi AS yang kuat, stimulus dari China, dan ancaman serangan balasan segera dari Iran terhadap Israel."
Penurunan tak terduga dalam inventaris minyak AS pekan lalu juga memberikan dukungan, ditambah laporan, OPEC+ sedang mempertimbangkan kembali rencana untuk menambah 180.000 barel minyak per bulan selama satu tahun mulai Desember.
Data pekerjaan AS yang lemah yang dirilis pada Jumat oleh Biro Statistik Tenaga Kerja belum terlihat memengaruhi perdagangan.
Menurut Marketwatch, Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan negara tersebut hanya menambah 12.000 pekerjaan baru bulan lalu, turun dari revisi 254.000 pekerjaan pada September dan jauh di bawah perkiraan konsensus untuk kenaikan sebesar 110.000 pekerjaan.
Bisa dibilang, tak lama setelah OPEC+ melemahkan sentimen pasar dengan mengisyaratkan kemungkinan perpanjangan pemotongan produksi hingga 2025, Iran kembali menjadi sorotan utama di pasar.
Setelah sebelumnya meremehkan serangan balasan Israel, pasar minyak kini memperkirakan kemungkinan serangan Iran terhadap Israel dengan menggunakan sejumlah besar drone dari wilayah Irak.
Kenaikan harga minyak karena premi risiko geopolitik telah mengangkat harga Brent berjangka ICE kembali ke kisaran USD74-75 per barel, menjelang pekan yang penuh ketegangan saat AS bersiap memilih presidennya. (Aldo Fernando)
作者:04/11/2024 07:18 WIB,文章来源Idxchannel,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:以上内容仅代表作者或嘉宾的观点,不代表 FOLLOWME 的任何观点及立场,且不代表 FOLLOWME 同意其说法或描述,也不构成任何投资建议。对于访问者根据 FOLLOWME 社区提供的信息所做出的一切行为,除非另有明确的书面承诺文件,否则本社区不承担任何形式的责任。
FOLLOWME 交易社区网址: followme.asia
加载失败()